ekonomi

Presiden: Ekonomi RI Ramah Lingkungan

“Saya sangat percaya tidak ada kontradiksi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan kewajiban untuk melindungi lingkungan hidup,” kata Presiden ketika berbicara sebagai panelis dalam forum diskusi redefinisi pembangunan berkelanjutan di World Economic Forum (WEF) seperti dikutip dari Antara di Davos, Swiss, Jumat (28/1).

Presiden menyatakan kebijakan dasar pemerintah Indonesia adalah untuk meningkatkan kesejahteraan warga negaranya melalui pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi hutan tropis Indonesia.

Bagi Indonesia, lanjut Presiden, pembangunan berkelanjutan dipandang melalui konteks yang lebih luas dengan cara mengembangkan kapasitas untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus menyusun kebijakan untuk pembangunan yang ramah terhadap lingkungan.

Kepala Negara mengatakan, Indonesia memang harus memperbaiki kesejahteraan masyarakat sesuai dengan target yang ingin dicapai dalam Millenium Developement Goals (MDG) dengan cara mengurangi kemiskinan yang melalui pembangunan bersifat inklusif sehingga bisa menciptakan keadilan dan pemberdayaan bagi seluruh warga negara.

Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, jelas Presiden, adalah dengan menyediakan akses kredit mikro yang baik kepada para pelaku usaha kecil dan menengah serta membuat jaring pengamanan sosial untuk memberikan kesempatan hidup yang lebih baik kepada kaum yang membutuhkan.

Mesir juga Picu Minyak Dunia Capai US$100,18

Mesir juga Picu Minyak Dunia Capai US$100,18
Level ini mencapai puncak tertinggi 28 bulan terakhir. Minyak Brent kontrak Mei dan kontrak bulan selanjutnya yang lain melampaui US$100 per barel intraday pada hari Jumat, dan kontrak Brent Juli menetap di US$100,18 per barel.

Minyak mentah Brent membukukan kenaikan mingguan 1,86%.
Minyak mentah AS pengiriman Maret naik US$3,70, atau 4,3%, menjadi US$89,34 per barel. Minyak AS berakhir hanya naik 23 sen untuk seminggu dan rebound dari kerugian hampir 2% pada hari Kamis.

Minyak AS mendapat dorongan awal dari data yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS mencapai 3,2% pada kuartal keempat. Hal ini membantu mempersempit peluang turunnya minyak mentah Brent setelah menyentuh tertinggi dua tahun.

Krisis politik di Timur Tengah menjadi fokus setelah Presiden Hosni Mubarak mengirim pasukan dan mobil lapis baja ke jalan-jalan kota Kairo dan kota-kota Mesir lainnya pada Jumat. Reaksi ini sebagai upaya untuk memadamkan protes jalanan dan massa yang menuntut dirinya mengakhiri kekuasaan 30-tahunnya.

Presiden Mubarak berpidato setelah pasar minyak tutup dan mengatakan Mesir membutuhkan dialog bukan kekerasan untuk mengakhiri masalah yang menyebabkan demonstrasi dan bahwa ia merubah pemerintahnya, menambahkan bahwa dia akan merombak pemerintah baru pada hari Sabtu, hari ini.

Di London, ICE minyak mentah Brent Maret naik US$2,03 menjadi di US$99,42 per barel dan mencapai tertinggi intraday US$99,74. Ini adalah penutupan tertinggi sejak 26 September 2008, sesaat setelah runtuhnya Lehman Brothers.


Laba Non-Audited BUMN Capai Rp95,30 Triliun
Untuk perolehan laba bersih tersebut, sektor energi menyumbang laba bersih terbesar pada 2010 dengan perkiraan mencapai Rp36,05 triliun atau mengalami pertumbuhan 2,74% bila dibandingkan 2009. Selain sektor energi, sektor perbankan juga menyumbang laba bersih sebesar Rp20,05 triliun atau tumbuh 14,97%, dan sektor telekomunikasi tumbuh 15,05% menjadi Rp13,07 triliun.

BUMN menargetkan Rencana Kerja dan Anggaran (RKAP) laba tahun 2011 mencapai Rp113,72 triliun. Menteri Negara BUMN, Mustafa Abubakar mengatakan, untuk mendukung hal tersebut, kementerian BUMN akan mendorong salah satu sektor yang dinilai berpotensial dapat tumbuh besar di tahun 2011.

Sektor tersebut yakni Industri strategis. Mustafa menuturkan, meski bila dilihat dari laba yang diperoleh sedikit di RKAP 2010, sebesar Rp1,48 triliun, Industri Strategis dinilai memiliki potensi yang sangat baik bila dilihat dari pertumbuhannya di bandingkan tahun 2009 yang mencapai 90,48%.

“Kita akan menggenjot sektor Strategis di 2011. Sektor ini bisa lebih ditingkatkan lebih baik lagi di tahun ini,” kata Mustafa dalam paparan outlook BUMN 2011 di Jakarta, Jumat (28/1).

Saat ini Kementerian BUMN sedang mengkaji kerjasama dengan kementerian pertahanan di sektor industri starategis. Nantinya industri strartegis akan mempunyai master plan untuk meningkat pendapatan dengan signifikan.

”Ada keuntungan dari kandungan lokal yang tinggi di 2011 dan akan jauh lebih besar karena beberapa makro regulasi sudah diperbaiki oleh kementerian BUMN,” kata Deputi Industri strategis BUMN Irnanda Laksanawan.

Relokasi Tujuh Pembangkit, PLN Hemat Rp80 Miliar

Total Kapasitas ketujuh Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) itu mencapai 142 Megawatt. ‘Skema penghematan yang diperoleh PLN tersebut salah satunya bersumber dari penggantian penggunaan Bahan Bakar dari minyak ke gas. Sebab, biaya operasional gas lebih murah dibandingkan dengan BBM,” ujar Manager Komunikasi Korporat, PT PLN, Bambang Dwiyanto, di Jakarta kemarin.

Bambang mengatakan, saat ini sebagian pasokan listrik Riau masih berasal dari pembangkit dengan menggunakan bahan bakar minyak, di samping dipasok dari sistim kelistrikan Sumatera Tengah sebesar 224 MW yang dihasilkan dari PLTA Koto Panjang, PLTG Teluk Lembu, IPP (Pengembang listrik swasta) PLTG Riau Power.

Selain itu, wilayah Riau juga menerima transfer pasokan listrik dari Sistim Kelistrikan Sumatera Utara dan Sumatera Barat sebesar 106 MW. Sedangkan pada kondisi beban puncak, rata-rata diperlukan suplai daya hingga 330 MW. “Jadi, ketika PLTG berkapasitas 142 MW ini nantinya beroperasi, maka bisa menekan penggunaan BBM,” bebernya.

Bambang menambahakan, relokasi tujuh mesin pembangkit ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistim kelistrikan sekaligus menambah kemampuan pasokan daya di wilayah Provinsi Riau. Relokasi ini kata dia akan dilakukan dua tahap, Untuk tahap pertama akan segera direlokasi sebanyak empat unit pembangkit dengan total kapasitas 82 MW yang akan direalisasikan pada tahun ini. Sisanya di tahap kedua sebanyak tiga unit pembangkit dengan total kapasitas 60 MW akan menyusul direlokasi pada Februari 2012. “Semua pembangkit yang direlokasi tersebut merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG),” terangnya.

Empat unit pembangkit listrik yang akan direlokasi pada tahap pertama terdiri dari, satu unit PLTG Gilitimur yang berlokasi di Madura dengan daya mampu normal 20 MW, satu unit PLTG Sunyaragi di Cirebon dengan daya mampu 18 MW dan dua Unit PLTG Cilacap dengan daya mampu 2×22 MW. “Diperkirakan pada September tahun ini, empat unit pembangkit listrik ini sudah dapat dioperasikan,” ujarnya.

Sementara itu lanjut dia, sisanya sebanyak tiga unit pembangkit yang segera menyusul direlokasi. terdiri dari, satu Unit PLTG Priok dengan daya mampu 20 MW yang berasal dari Madura dan dan satu unit pembangkit combine cycle dengan daya mampu 2×20 MW yang saat ini berada di Perak-Surabaya.

Untuk ketiga pembangkit ini, diperkirakan baru dapat dioperasikan pada Pebruari tahun depan. Selain melakukan relokasi pembangkit listrik hingga 142 MW, rencananya juga akan dilakukan sewa pembangkit di Dumai sebesar 30 MW.

Disebutkan bambang, setelah proses relokasi tujuh PLTG tadi selesai dilakukan dan sudah dapat beroperasi normal, maka Provinsi Riau akan mendapat tambahan pasokan daya sebesar 142 MW. “Selain akan memperkuat sistim kelistrikan di wilayah Riau, tambahan daya ini juga akan lebih meningkatkan sekuriti (keamanan) suplai listrik dan memperbesar cadangan daya yang tersedia, sehingga pertumbuhan beban di provinsi Riau akan dapat terlayani dengan lebih baik lagi,” pungkasnya.

Selain relokasi tujuh pembangkit tersebut, PLN juga berrencana melakukan sewa pembangkit di Dumai sebesar 30 MW.

Neraca Pembayaran Internasional

NPI pada tahun 2007 diperkirakan mengalami kenaikan. surplus NPI untuk keseluruhan 2007 diperkirakan mencapai USD13,6 miliar, lebih tinggi dari perkiraan semula (USD11,5 miliar). Baik transaksi berjalan maupun transaksi modal dan keuangan menunjukkan prospek yang meningkat dibanding 2006. Sejalan dengan surplus NPI, cadangan devisa diperkirakan meningkat dari USD42,6 miliar pada akhir 2006 menjadi USD57,3 miliar pada akhir 2007 (5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah). Kinerja perekonomian domestik selama 2007 diperkirakan lebih baik, yaitu mencapai 6,3% dibanding tahun sebelumnya sebesar 5,5%. Pertumbuhan tersebut terutama

didorong oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor. Investasi diperkirakan tumbuh

semakin meningkat walaupun belum cukup kuat, selain itu laju inflasi menurun dari 6,6% pada tahun 2006 menjadi 6,5% pada tahun 2007. Dikarenakan peningkatan harga komoditas seperti minyak dunia, CPO, gandum, dan jagung. Selain itu pada tahun ini juga mengalami pengurangan produksi dan ekspor LNG karena Penurunan produksi tersebut karena tambahan produksi yang dihasilkan dari investasi baru di sektor minyak belum mampu menutupi terus berkurangnya produksi dari lapangan minyak lama. Sehingga menarik penanam modal asing untuk berinvestasi, tercatat investasi sekitar USD12,96 miliar untuk investasi migas. Selain itu terjadi kenaikan kegiatan pariwisata domestik dari 5.500 wiatawan pada thn 2006 menjadi 6.000 wiatawan pada tahun 2007.

Neraca berjalan / current account

Neraca berjalan pada tahun 2008 mengalami surplus dikarenakan ekspor  non migas yang ma

Struktur Industri
1.The jumlah dan ukuran
2.Entry & Kondisi Keluar
3.Product Diferensiasi
4.Vertical Integrasi
5.Diversification

Definisi pasar
-Produk Pasar Definisi
• Tutup Pengganti (Elastisitas Harga Cross)
-Definisi Pasar Geografis
• Kenaikan harga satu produk di satu lokasi secara signifikan mempengaruhi permintaan atau penawaran di tempat lain

Industri mengacu pada sisi penawaran pasar atau kegiatan produktif
Pasar referes baik penawaran dan permintaan

Agregat konsentrasi diukur sebagai bagian dari n perusahaan terbesar di total penjualan, aset atau pekerjaan (atau ukuran lain yang sesuai) bagi perekonomian secara keseluruhan.
Jumlah perusahaan n bisa n = 50.100, 200 atau 500

CRN mengukur saham n industri perusahaan terbesar dalam beberapa ukuran ukuran total industri (n = 3,4,5 atau 8).

Si: pangsa perusahaan terbesar i’th penjualan total industri, saldo aktiva atau pekerjaan

Herfindahl-HirschmanIndex

Nilai maksimum HH adalah 1 (monopoli)
• Nilai minimum adalah 1 / N (perusahaan yang sama besar)

Jumlah Setara adalah ukuran kebalikan dari konsentrasi. Mengukur inequalityin distribusi ukuran perusahaan
• Jumlah Setara Indeks HH = 1/HH
• Nilai maksimum NEHHis 1/HH = N
• Nilai minimum NEHHis 1/HH = 1

Indeks HK adalah Generalisasi dari HH Indeks A
à Indeks 2 = HH aJika
a• Jika  < Opsi untuk perusahaan kecil dan berat relatif kurang kepada perusahaan lebih besar dari HHàberat 2
a• Jika >  lebih kepada perusahaan largesr dan berat relatif kurang ke perusahaan lebih kecil dari HHàberat 2

Jumlah Indeks HK setara
Nilai maksimum NEHHis 1/HH = N (Semua perusahaan yang sama besar)
• Nilai minimum NEHHis 1/HH = 1 (Monopoli)

EntropyCoefficient
• E adalah ukuran lain tertimbang jumlah konsentrasi tetapi bobot yang berbanding terbalik dengan pasar saham perusahaan
• E adalah kecil untuk industri tinggi terkonsentrasi dan E adalah besar untuk industri rendah terkonsentrasi
Nilai maksimum dari E, E = loge (N)
• Nilai minimum E, E = 0A
Nilai maksimum RE, RE = 1 (perusahaan berukuran N-sama)
• Nilai minimum E, E = 0 (monopoli)

Varianceofthelogaritmsoffirmsizes
Pada tahun, statistik, varian yang menyediakan ukuran standar ketimpangan dispersionon dalam kumpulan data

Kurva Lorenz menunjukkan variasi dalam ukuran kumulatif n perusahaan terbesar di industri, sebagai n bervariasi dari 1 sampai N

Kurva Lorenz dan koefisien Gini
Nilai maksimum dari G = 1 (pendekatan line ODA)-monopoli
• Para vale minimum G = 0 n (pendekatan ine OCA)-setara dengan perusahaan berukuran

Simak

Baca secara fonetik

Kamus – Lihat kamus yang lebih detail

Terjemahkan situs web mana pun

Lakukan banyak hal dengan Google Terjemahan

  • Cari resep sushi terbaik di dunia, tentunya dalam bahasa Jepang! Bebaskan kekuatan Penelusuran yang Diterjemahkan Google.
  • Kesulitan memahami situs web berbahasa asing? Unduh Google Chrome, peramban web yang selain cepat dan aman, dilengkapi pula dengan perangkat penerjemahan internal.
  • Apa sih artinya? Pasang Google Toolbar supaya Anda tidak perlu kesulitan lagi dengan kosakata bahasa asing.
  • Ingin agar penggemar di Norwegia dapat membaca blog Anda? Pasang Elemen Google Terjemahan untuk menerjemahkan dengan mudah.

Langkah-langkah penjual yang paling banyak digunakan meliputi rasio konsentrasi n-perusahaan konsentrasi, indeks Herfindahl-hrschman, indeks hannah-kay, koefisien entropi, varians dari logaritma ukuran perusahaan, dan koefisien gini. Metode perhitungan untuk semua langkah ini telah menjelaskan secara rinci dan strenghs mereka dan keterbatasan telah dinilai.

Ketika langkah-langkah ini diterapkan pada data dunia nyata itu adalah jelas bahwa konsentrasi penjual bervariasi antar sektor. Namun, beberapa pola umum yang muncul. Secara khusus phomenon clustering, dimana kelompok perusahaan yang saling bergantung yang terletak di dalam kawasan geograpic spesifik menyadari ekonomi dengan mendirikan dekat hubungan vertikal atau horisontal, adalah petterns locational yang telah mendapat banyak perhatian dalam organisasi industri, manajemen strategis dan literatur geografi ekonomi.

Simak

Baca secara fonetik

SEJARAH SINGKAT KOPERASI SIMPAN PINJAM JASA

Koperasi Simpan Pinjam JASA didirikan oleh para pengusaha kecil dan menengah pada decade Tahun 1970-an yang member solusi dalam mengatasi kesulitan untuk mendapatkan bantuan permodalan, karena pada umumnya mereka mengelola usahanya secara tradisional. Untuk menanggulangi kesulitan tersebut pada tanggal 1 Desember 1973 di kediaman Bapak H. A. Djunaid (Alm) seorang Tokoh Koperasi Nasional, diadakan pertemuan yang terdiri atas Tokoh Masyarakat dari ketiga etnis: Pribumi, Keturunan China dan Keturunan Arab. Mereka sepakat membentuk kopersi yang usahanya dalam bidang simpan pinjam. Dan atas kesepakatan koperasi tersebut diberi nama “ JASA” dengan harapan agar dapat memberikan jasa dan manfaat bagi anggota, gerakan koperasi, masyarakat, lingkungan dan pemerintah.

Sejak berdiri sampai sekarang mengikutsertakan secara aktif semua pihak dan golongan tanpa membedakan suku, ras, golongan dan agama, semata-mata hanya untuk bersatu pada hidup berdampingan dalam memecahkan masalah di bidang ekonomi secara bersama-sama dalam wadah koperasi. Untuk itulah koperasi Simpan Pinjam JASA mendapat predikat “ Koperasi Kesatuan Bangsa”.

SEJARAH KOPERASI SIMPAN PINJAM di INDONESIA

Koperasi dikenalkan di Indonesia oleh R.Aria Wiriatmadja di Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun. 1896. Beliau mendirikan koperasi dibidang uasaha simpan pinjam. Untuk memodali koperasi simpan pinjam tersebut, selain beliau menggunakan uang sendiri juga menggunakan kas mesjid yang dipegangnya. Setelah beliau mengetahui bahwa hal tersebut tidak boleh, maka uang kas mesjid telah dikembalikan secara utuh pada posisi yang sebenarnya. Kegiatan R Aria Wiriatmadja dikembangkan lebih lanjut oleh De Wolf Van Westerrode asisten Residen Wilayah Purwokerto di Banyumas. Ketika ia cuti ke Eropa dipelajarinya cara kerja wolksbank secara Raiffeisen (koperasi simpan-pinjam untuk kaum tani) dan Schulze-Delitzsch simpan-pinjam untuk kaum buruh di kota) di Jerman. Setelah ia kembali dari

cuti melailah ia mengembangkan koperasi simpan-pinjam sebagaimana telah dirintis oleh R. Aria Wiriatmadja . Dalam hubungan ini kegiatan simpanpinjam yang dapat berkembang ialah model koperasi simpan-pinjam lumbung dan modal untuk itu diambil dari zakat. (koperasi Pada tanggal 12 juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan konggres koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Tanggal dilaksanakannya konggres ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia. Pada tanggal ini pula diselenggarakan kongres koperasi se Jawa yang pertama di Tasikmalaya. Dalam kongres tersebut diputuskan antara lain terbentuknya Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia yang disingkat SOKRI.

Selanjutnya pada tanggal 15 sampai dengan 17 Juli 1953 dilangsungkan kongres koperasi Indonesia yang ke II di Bandung. Keputusannya antara lain merubah Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) menjadi Dewan Koperasi Indonesia (DKI). Di samping itu mewajibkan DKI membentuk Lembaga Pendidikan Koperasi dan mendirikan Sekolah Menengah Koperasi di Provinsi-provinsi. Keputusan yang lain ialah penyampaian saran-saran kepada Pemerintah untuk segera diterbitkannya Undang-Undang Koperasi yang baru serta mengangkat Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Dan jasa-jasanya dibidang koperasi masih dikenang sampai sekarang dan perkembangan koperasi sekarang sudah semakin maju.

LATAR BELAKANG KOPERASI SIMPAN PINJAM JASA

Dalam sejarah perkembangan perekonomian di Indonesia, koperasi memiliki peranan yang cukup berarti. Seperti Koperasi Simpan Pinjam JASA yang didirikan oleh para pengusaha kecil dan menengah untuk member solusi dalam mengatasi kesulitan permodalan. Selain itu koperasi memperlihatkan bahwa keberadaan koperasi tidak saja menguntungkan pada anggota koperasi tetapi juga telah berperan dalam penyerapan tenaga kerja dan memberikan tingkat kesejahteraan yang lebih baik

Analisis tentang Pengaruh Investasi

terhadap Pembangunan Ekonomi di Propinsi Papua

Pieter N. De Fretes

Abstract: In connection to the influence of investment on the economic growth the aims of this research are to characterize the influence of both domestic and foreign investments for the employment and for the income per capita ofpeople in Papua Province. This research used the secondary data that was collected from some related departments and library study and the data was analyzed by using mathematic, econometric, particularly the regression analysis model. Based on the resuN of analysis foreign investment has significant influence on employment opportunities and income per capita because foreign investment is oriented more to logging sub sector that exploit foreshy products (plywood industry), mining sector: etc., thatprovide many job opportunities, so that they have positive impact for the increase of income per. capita. From result of analysis domestic investment does not has signifcant influence on job opportunities and income per capita because domestic investment is oriented more to the development of some sectors that absorb lesser lab06 e.g. logging sector; chemical industry, expenditure for general facilities, educational and teaching expenditures, Representatives Secretariat expenditure, and other expenditures. Some step which require to be done and viewed as by a positive phenomenon to increase domestic invesment and overseas invesment shall be as follows: (I) reform the investment service bureaucracy, build the investment potential information system, and improve and provide the physical infrastructures. (2) If is, therefore, suggested that local government devices a more consistent policy to characterize the productive sectors in order to support the less productive ones; (3) The policy of local government to develop rhe funcrion of the Kaped and Kadin must serve their functions.

Keywords: the influence of investment, economic development

Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah adalah untuk meningkatkan kesempatan kerja dan pening katan pendapatan masyarakat. Dalam upaya mencapai tujuan tesebut, pemerintah daerah dan masyarakat harus bersama-sama terlibat aktif dengan menggunakan potensi-potensi yang ada untuk membangun perekonomian daerah.  Setiap daerah otonom memiliki keleluasan untuk mengembangkan potensi dan aset-aset yang dimiliki, terutama potensi sumber daya alam daerah yangdapatdijadikan sebagai andalan dalam pengembangan,ekonomi daerah secara umum. Untuk mendorong pemhangunan ekonomi tersebut, salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh pemerintah Propinsi Papua adalah dengan mendorong para investor baik investor lokal maupun investor asing untuk melakukan investasi di Propinsi Papua, dan diharapkan dapat memberikan peningkatan pendapatan bagi daerah.

Adapun indikator-indikator kunci pembangunan secara garis besar pada dasarnya dapat diklasifikasikan.

  • Indikator Ekonomi, yang terdiri dari

– GNP per kapita,

– Laju pertumbuhan ekonomi, dan

– GDP per kapita dengan Purchasing Power Parity

  • Indikator Sosial, yang terdiri dari

– HDI (Human Development Index),

– PQLI (Physical Ouality Lije Index) atau Indeks Mutu Hidup.

  • Konsep dan Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Daerah

Perkembangan investasi di Propinsi Papua cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di mana pada tahun 1990 investasi dalam negeri sebesar Rp53.542.206,OO (dalam ribu) dan investasi luar negeri sebesar US $1.275.686 (dalam ribu) dan pada tahun 2004 investasi dalam negeri sebesar Rp1.35 1.336.409,OO (dalam ribu), sedangkan investasi luar negeri sebesar US $ 6.601.558 (dalam ribu). Sudah tentu peningkatan investasi ini diharapkan memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekonomi, kesempatan kerja dan pendapatan per kapita di Propinsi Papua. Dalam kaitannya dengan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi maka yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pengaruh investasi dalam negeri dan investasi luar negeri terhadap penyediaan kesempatan kerja dan pendapatan per kapita di Propinsi Papua?

Ide dasar dari penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran untuk melihat keberhasilan pembangunan Papua. dari aspek investasi, perluasan kesempatan kerja, dan  pendapatan per kapita rnasyarakat.

Sehubungan dengan pemikiran dan pendapat tersebut di atas maka investasi, kesempatan kerja dan pendapatan per kapita dijadikan dituangkan dalam model sebagai berikut:

Berdasarkan penjelasan pada permasalahan, maka hipotesis dari penelitian ini adalah, sebagai berikut:

  • Diduga bahwa penyediaan kesempatan kerja di Propinsi Papua dipengaruhi oleh investasi dalam negeri dan investasi luar negeri.
  • Diduga bahwa pendapatan per kapita masyarakat di Propinsi Papuadipengaruhi oleh investasi

dalam negeri dan investasi luar negeri.

METODE

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Propinsi Papua, dengan pertimbangan bahwa daerah ini memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.

SUMBER DATA

Wilayah Penelitian ini menggunakan data sekunder yang dikumpulkan dan diperoleh dari lembaga instansi, sebagai berikut:

  • Badan Promosi dan Investasi Daerah Propinsi
  • Dinas Tenaga Kerja dan Trasmigrasi Propinsi
  • Badan Pusat Statistik Propinsi Papua.
  • Badan Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan
  • Daerah Propinsi Papua.
  • Kantor Cabang Bank Indonesia Papua.

Variabel yang Diamati

Dalam penelitian ini variabel yang diamati meliputi:

  • Investasi terdiri dari:

– Investasi dalam negeri yakni investasi yang bersumber dari pemerintah dan swasta nasional, diukur   dalam jumlah rupiah. I

– Investasi luar negeri yakni investasi yeng bersumber dari pemerintah asing dan swasta asing, diukur dalam jumlah rupiah.

  • Kesempatan kerja, diukur dalam jumlah orang.
  • Pendapatan per kapita propinsi, diukur dalam jumlah rupiah.

Metode Analisis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan formula:

Analisa Regresi Berganda:

Y = po + p l x l + p 2 x 2 + E

Di mana untuk variabel X masing-masing:

X 1 = Investasi Dalam Negeri

X 2 = Investasi Asing

Untuk variabel Y masing-masing:

– Kesempatan Kerja

– Pendapatan Per kapita Masyarakat

Kriteria pengambilan keputusan dengan model uji t adalah, sebagai berikut:

Jika nilai T hitung,, > T tabel,=, = t (a , db), maka tolak Ho atau terima HI.

Jika nilai T hitung < T tabel, = t (, db), maka terima Ho atau tolak HI.

Analisis Laju Pertumbuhan Investasi, laju Pertumbuhan Kesempatan Kerja dan Laju Pertumbuhan Pendapatan per kapita

Analisis ini digunakan untuk menghitung laju pertumbuhan Investasi, laju pertumbuhan kesempatan

kerja dan laju Pendapatan per kapita dengan formula sebagai berikut :

UntukMeliat Besarnya Elastisitas Kesempatan Kerja Digunakan Rumus, sebagai berikut:

Keterangan:

e = Elastisitas Permintaan Kesempatan Kerja.

E o= Jumlah Kesempatan Kerja Tahun Dasar.

E , = Jumlah Kesempatan Kerja Tahun t.

Yo= PDRB Tahun Dasar.

Yt = PDRB Tahun t.

E = Pertumbuhan Kesempatan Kerja.

Y = Pertumbuhan PDRB.

PEMBATASAN BBM YG BERSUBSIDI

Langkah pemerintah melakukan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi secara tergesa-gesa sulit diterima rakyat. terkendala sulitnya mengetahui pola konsumsi premium dan solar oleh kendaraan bermotor. Padahal, survei pola konsumsi tersebut sebenarnya tidak terlalu sulit. Kondisi infrastruktur transportasi dan manajemen lalu lintas yang belum baik semakin sulit membuat pola konsumsi BBM kendaraan bermotor. Pola konsumsi tersebut bisa menjadi turbulen karena berbagai faktor seperti misalnya masalah kemacetan dan sulitnya mencari tempat parkir. Selain itu, juga terjadi pembengkakan subsidi yang dikarenakan kesalahan kalkulasi oleh pemerintah. Sektor transportasi merupakan sasaran utama penghematan pemakaian BBM. Begitu pula dengan sektor industri dan pembangkit listrik. Keputusan itu berpokok pangkal dari pengertian efisiensi energi dan ekonomi yang berasaskan Pareto. Dalam pengertian yang sederhana, efisiensi adalah pemakaian sesedikit mungkin sumber daya atau input untuk menghasilkan sebanyak mungkin output. Tapi  apabila pemerintah terlalu tergesa-gesa mengadakan pembatasan BBM yg bersubsidi, malah akan membuat kegiatan ekonomi yg tadinya berjalan lancar, karena ada pembatasan jadinya malah tersendat/mungkin membuat banyak kegiatan ekonomi terhenti,seperti industry yg harus gulung tikar, SPBU yang kerepotan harus melihat satu per satu kendaraan mana yg pantas dapat subsidi atau tidak. Selain itu apabila harga antara BBM bersubsidi dan non-subsidi, selisihnya terlalu besar, tidak tertutup kemungkinan, ada pihak-pihak yang memanfaatkannya. Misalnya, pihak yang tidak bertanggung jawab membeli BBM bersubsidi, tetapi kemudian, mereka timbun dan jual dalam harga yang sama dengan non-subsidi, ini harus diantisipasi. . Mestinya kebijakan seperti ini dilakukan dalam kerangka program nasional yang sistematis dan teredukasi, juga ditopang oleh Undang-Undang Konservasi Energi yang mampu membangun kesadaran publik untuk menjadikan konservasi sebagai budaya yang harus terus-menerus ditumbuhkan. Untuk meneguhkan UU tersebut diperlukan sumber daya manusia (SDM) dan lembaga yang memiliki kompetensi dan wewenang untuk melakukan audit energi, metode konservasi energi, serta pemberian insentif bagi pihak yang berhasil melakukan efisiensi. Selain itu kebijakan pemerintah mengenai pembatasan BBM bersubsidi juga dapat merugikan pertamina, karena kebijakan ini bisa berimplikasi pada pelarangan menjual dilokasi perkotaan dan jalur jalan tol, bakal merugikan Pertamina,operator penyalur BBM milik negara. Pelanggan terbesar Pertamina adalah pengguna BBM bersubsidi,sehingga jika benar-benar pembatasan terjadi dan penjualan hanyaboleh di daerah pinggiran, tentu pelanggan bisa beralih kepada SPBU milik operator swasta asing seperti Shell atau Petronas. Pemerintah sama saja mematikan usaha Pertamina dan memberikan peluang dankeuntungan kepada operator asing. Harapannya apabila memang kebijakan ini dilakukan secara nyata pengguna BBM bersubsidi tetap harus tepat sasaran. Jangan sampai golonganmasyarakat yang mampu membeli mobil mewah atau kelas ekonomimenengah atas juga menikmati BBM bersubsidi. Solusi dari kebijakan ini, sebaiknya pemerintah juga mengadakan konservasi energy nasional. Sehingga dapat mengurangi pemakaian BBM yang berlebih oleh masyarakat. Seperti Negara- Negara maju di dunia yang dapat mengurangi pemakaian BBM oleh masyarakatnya, karena ada energy pengganti BBM. Mungkin kita sebagai masyarakat Indonesia harus lebih creative dalam menciptakan energy pengganti BBM dan harus lebi

PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN PEMBANGUNAN EKONOMI : PENYEBAB, KONSEKUENSI DAN KONTROVERSI

Pertumbuhan penduduk menjadi permasalahan yang cukup rumit bagi negara-negara di dunia karena setiap tahunnya tidak kurang dari 80 juta jiwa lahir dan menambah jumlah penduduk dunia yang kini jumlahnya sudah mencapai miliaran jiwa. Permasalahan ini khususnya dialami oleh negara-negara di dunia ketiga karena sebagian besar manusia baru tersebut 97% nya adalah berasal dari negara-negara dunia ketiga. Permasalahan tentang pertumbuhan penduduk ini tidak hanya masalah jumlah tetapi lebih dari itu, permasalahan ini juga terkait kepentingan pembangunan serta soal kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan karena pertumbuhan penduduk yang sedemikian cepat akan menimbulkan berbagai permasalahan yang serius bagi kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia.

Pertumbuhan penduduk yang begitu cepat ternyata juga dihadapkan pada permasalahan lainnya yaitu ketidakmerataan distribusi penduduk dunia, baik menurut wilayah geografis, tingkat kelahiran dan kematian, maupun menurut struktur usia.

Ketidakmerataan persebaran penduduk berdasarkan geografis dapat diketahui melaui data pada tahun 2003 yang bersumber dari Population Referece Bureau, bahwa lebih dari tiga perempat penduduk dunia tinggal di negara-negara berkembang dan kurang dari seperempatnya bermukim di negara-negara maju. Persebaran penduduk yang tidak merata ini dapat pula dicermati dari kenyataan bahwa memang negara-negara berkembang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang lebih tinggi dibandingkan dengan di negara-negara maju.

Ketidakmerataan berdasarkan tren tingkat kelahiran dan kematian dapat dijelaskan bahwa secara kuantitatif, tingkat pertambahan penduduk dihitung atas dasar persentase kenaikan relatif dari jumlah penduduk neto per tahun yang bersumber dari pertambahan alami dan migrasi internasional neto. Di mana terdapat perbedaan laju pertumbuhan penduduk di negara-negara maju dan di negara-negara sedang berkembang yang disebabkan oleh tingkat kelahiran (fertilitas) di berbagai negara berkembang umumnya jauh lebih tinggi daripada yang ada di negara-negara maju. Di samping itu, tingkat kematian (mortalitas) di negara-negara berkembang juga jauh lebih tinggi. Meskipun demikian, selisih tingkat kematian tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan selisih tingkat kelahiran. Oleh karena itu, rata-rata laju pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang dewasa ini bergerak semakin tinggi. Adanya perbedaan tingkat kelahiran di negara maju dan di negara berkembang ini disebabkan oleh adanya tradisi perkawinan muda hampir di seluruh negara berkembang.

Struktur usia dan beban ketergantungan juga mengakibatkan ketidakmerataan distribusi penduduk dunia karena dewasa ini, penduduk dunia pada umumnya terdiri dari manusia berusia muda, khusunya di negara-negara berkembang. Di mana lebih dari 31% penduduk negara berkembang terdiri dari anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Sedangkan di negara maju jumlah generasi mudanya hanya 18% dari jumlah total penduduknya. Komposisi penduduk yang didominasi oleh penduduk usia muda, memungkinkan kita untuk menghitung rasio ketergantungan pemuda agar dapat mengetahui berapa jumlah beban atas pemuda yang harus ditanggung orang dewasa. Rasio ketergantungan pemuda memiliki pengertian yakni,  perbandingan antara pemuda berusia di bawah 15 tahun yang belum memiliki penghasilan sendiri, dengan orang-orang dewasa yang aktif atau produktif secra ekonomis berusia 15-64 tahun. Semakin banyak jumlah pemuda non produktif relatif terhadap angkatan kerja, maka akan semakin tinggi rasio ketergantungannya. Fenomena ketergantungan penduduk berusia muda ini selanjutnya menimbulkan konsep lain yang disebut sebagai momentum pertumbuhan penduduk yang tersembunyi. Istilah ini dapat diartikan sebagai kecenderungan suatu negara untuk terus-menerus mengalami peningkatan yang tidak terhentikan sekalipun tingkat kelahiran telah mengalami penurunan pesat. Pertambahn penduduk mempunyai kecenderungan untuk terus melaju, seolah-olah laju pertumbuhan penduduk tersebut mengandung daya gerak (momentum) internal dan tersembunyi. Adapun latar belakang dari keberadaan daya gerak tersembunyi tersebut yaitu :

  • Tingkat kelahiran itu sendiri tidak mungkin diturunkan hanya dalam waktu singkat. Kekuatan-kekuatan sosial-ekonomi dan institusional yang mempengaruhi tingkat fertilitas yang telah ada dan bertahan selama berabad-abad tidak mudah hilang  begitu saja hanya karna dari para pemimpin nasional.
  • Atas adanya momentum yang tersembunyi tersebut erat sekali kaitannya dengan struktur usia penduduk di negara-negara berkembang.

Konsep tersebut merupakan faktor yang penting untuk masa-masa mendatang karena jika suatu negara tidak bisa menentukan atau memprediksi bagaimana pertumbuhan penduduknya, tentu negara tersebut tidak bisa maju kaena setiap perubahan atau struktur pertumbuhan penduduk harus didata secara jelas.

Transisi Demografis

Proses penurunan tingkat fertilisasi sampai terciptanya pertambahan penduduk, lewat program keluarga berencana dari ketiga tahapan besar yg sudah dilalui oleh negara-negara berkembang sebelum melakukan modernisasi.

Tahap-tahap dalam transisi demografis:

–          Tahapan pertama: Tahapan ini belum hadirnya modernisasi ekonomi, negara-negara pada tahap ini mempunyai laju pertumbuhan penduduk yang stabil atau sangat lambat, penyebabnya meskipun angka kelahiran mereka sangat tinggi, angka kematian mereka mereka juga sangat tinggi, bahkan hampi sama tingginya dengan angka kelahiran.

–          Tahapan kedua: Tahapan ini berlangsung setelah adanya modernisasi.  yang kemudian menghasilkan beberapa metode penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat yg lebih baik, makanan yg lebih bergizi, pendapatan yg lebih tinggi dan berbagai bentuk perbaikan hidup lainnya. Pada tahap ini laju pertambahan penduduk terus meningkat dengan cepat, dimana jumlah total penduduk melonjak secara drastis akibat meningkatnya selisih antara angka kelahiran yg tinggi dan angka kematian yg mulai rendah, cenderung menurun.

–          Tahapan ketiga: Tahapan ini berlangsung dengan munculnya berbagai macam dorongan dan pengaruh yang bersumber dari upaya-upaya modernisasi serta pembangunan yg menyebabkan turunnya tingkat fertilitas.

Perbedaan Negara Maju dan Negara Berkembang Dalam Tahapan Transisi demografis

1.Negara Maju

Pada tahap pertama di negara-negara eropa barat sebelum abad ke sembilan belas, angka kelahiran berkisar 35 per seribu jiwa, sementara angka kematian berfluktuasi sekitar 30 per 1000 jiwa. Dengan demikian, laju pertumbuhan penduduknya hanya berkisar 5 orang per seribu jiwa atau lebih kecil dari 0,5 persen pertahun. Tahapan yang kedua  mulai berlangsung sekitar kuartal pertama abad kesembilan belas yg ditandai dengan  mulai menurunnya tingkat kematian secara perlahan sebagai hasil dari perbaikan tingkat ekonomi. Dan semakin membaiknya  metode pengendalian penyakit dan sumber kematian lainnya berkat perkembangan teknologi medis modern dan teknologi pelayanan kesehatan masyarakat. Tahapan ketiga , penurunan tingkat kelahiran belum benar-benar terjadi, dimana angka kematian stabil dan angka kelahiran berfluktuasi.

2.Negara Berkembang

Pada negara-negara terbelakang tingkat kelahirannya jauh lebih tinggi daripada tingkat angka kelahiran yang pernah terjadi daripada tingkat kelahiran yg pernah terjadi di negara-negara eropa barat sebelum revolui industri. Tahapan kedua berlangsung disemua negara dunia ketiga dimana penggunaan teknologi pelayanan kesehatan serta pengobatan impor modern yg efektif menyebabkan turunnya tingkat kematian secara drastis dan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk yg mencapai 2 persen per tahunnya. Tahapan ketiga berlangsung ketika tingkat fertilitas serta laju pertambahan penduduknya cenderung terus menurun, karena adanya metode modern ppengendalian dan pengurangan tingkat kematian yang dikombinasikan dengan meningkatnya taraf hidup secara merata berhasil menurunkan angka kematian dan kelahiran. Tetap tidak semua negara berkembang bisa mencapai target seperti ini. Masih ada beberapa negara pada awalnya angka kematian dinegara ini berhasil diturunkan tetapi dalam perkembangan selanjutnya penurunan tersebut terhenti sebagai akibat dari tidak kunjung teratasinya kemiskinan absolut, rendahnya taraf hidup dan juga mewabahnya penyakit AIDS, sementara itu tingkat kelaahiran tetap saja tinggi.

Teori Tentang Pertumbuhan Penduduk dan Pertumbuhan Ekonomi

a.       Teori Jebakan Popolasi Malthus

Thomas Malthus pernah mengajukan sebuah teori tentang hubungan antara pertumbuhan penduduk dan pembangunan ekonomi yang masih dipercaya para ahli sampai saat ini. Dalam bukunya Essay on The Principle of Population, Thomas Maltus merumuskan sebuah konsep tentang  pertambahan hasil yang semakin berkurang. Malthus melukiskan suatu kecenderungan universal bahwa jumlah populasi di suatu negara akan meningkat dsangat cepat menurut deret ukur atau geometrik setiap 30 atau 40 tahun, kecuali jika hal itu diredam oleh bencana kelaparan. Dan karena adanya the law of diminishing returns dari faktor-faktor produksi yang jumlahnya tetap, maka persediaan pangan hanya akan meningkat menurut deret hitung atau tingkat aritmetik. Hal ini pada taraf yang lebih parah akan menurunkan taraf kehidupan masyarakat hingga ada penduduk yang tidak mendapat bahan pangan sama sekali. Kemudian menurut Malthus, satu-satunya cara untuk mengatasi masalah rendahnya taraf hidup yang kronis atau kemiskinan absolut tersebut adalah “penanan kesadaran moral di kalangan segenap penduduk dan kesediaan untuk membatasi kelahiran.

Gagasan Malthus ini oleh para ahli dinamai secara khusus sebagai model jebakan populasi ekuilibrium tingkat rendah (low-level equilibrium population trap) atau yang sering disingkat sebagai model jebakan populasi Malthus. Gagasan ini memiliki pengertian yaitu ledakan penduduk akan menimbulkan pola hidup yang serba pas-pasan (subsisten).

Aspek berikutnya dari teori Malthus mencoba menjelaskan hubungan antara tingkat pertumbuhan pendapatan agregat (pada saata laju pertumbuhan penduduk sama dengan nol) dan tingkat pendapatan per kapita. Kita kemudian dapat membandingkan tingkat pendapatan agregat dan jumlah penduduk. Jika pendapatan agregat dari suatu negara meningkat lebih cepat, maka secara definitif pendapatan per kapita juga meningkat. Seandainya pertumbuhan penduduk lebih cepat daripada peningkatan pendapatan total, maka dengan sendirinya tingkat pendapatan per kapita akan menurun.

Menurut pendukung aliran pemikiran neo-Malthus , bangsa-bangsa yang miskin tidak akan pernah berhasil mencapai tingkat  pendapatan per kapita yang jauh lebih tinggi dari tingkat subsisten, kecuali mereka mengadakan pengendalian preventif awal terhadap pertumbuhan populasi mereka, atau dengan menerapkan pengendalian kelahiran . apabila hal tersebut tidak dilaksanakan secepatanya, maka pengendalian positif ala Malthus yakni, musibah kelaparan, wabah penyakit, perang, bencana alam yang akan tampil sebgai faktor penghambat utama pertumbuhan penduduk.

Kelemahan model teori Malthus terletak pada sejumlah asumsi yang terlalu menyederhanakan persoalan dan hipotesis yang diajukannya juga tidak terbukti secara empiris. Kritik terhadap model ini didasarkan pada dua alasan pokok. Pertama, dan yang paling penting, model ini melupakan atua tidk memperhitungkan begitu besarnya dampak kemajuan teknologi dalam mengimbangi berbagai kekuatan negatif yang bersumber dari ledakan pertumbuhan penduduk. Kemudian kritik kedua terhadap model malthus bertumpu pada asumsi yang digunakannya, yaitu bahwa tingkat pertumbuhan penduduk di suatu negara berkorelasi langsung (secara positif) dengan tingkat pendapatan perkapita dari negara yang bersangkutan. Menurut asumsi ini, apabila tingkat pendapatan per kapita di suatu negara masih relatif rendah, maka setiap pendapatan per kapita akan berjalan beriringan dengan kenaika jumlah penduduk. Akan tetapi, serangkaian penelitian menunjukkan bahwa tidak ada korelasi yang pastia atu jelas antara laju pertumbuhan dan tingkat pendapatan per kapita di kalangan negara-negara dunia ketiga.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, teori-teori Malthus maupun neo-Malthus terhadap kondisi negara-negara dunia ketiga kemudian ditolak untuk diberlakukan. Adapun alasan selengkapnya atas penolakan tersebut adalah sebagai berikut :

1.      Model atau teori Malthus tidak memperhitungkan peranan dan dampak-dampak penting dari kemajuan teknologi.

2.      Teori tersebut didasarkan pada suatu hipotesis mengenai hubungan-hubungan makro (berskala besar) antara tingkat pertumbuhan penduduk dengan tingkat pendapatan per kapita, yang ternyata tidak dapat dibuktikan secara empiris.

3.      Terlalu bertumpu pada tingkat pendapatan per kapita sebagai determinan utama dan ternyata justru menjadi variabel ekonomi yag keliru

.

b.      Model Rumah Tangga Todaro

Merupakan teori yang berpijak pada teori-teori neoklasik tradisional tentang perilaku konsumen dan rumah tangga sebagai dasar analisis, serta menggunakan prinsip-prinip ekonomi dan optimasi untuk mnerangkan proses pengambilan keputusan di tingkat keluarga mengenai besar atau kecilnya jumlah anak yang hendak dimiliki.

Teori perilaku konsumen konvensional mengasumsikan bahwa seorang individu berdasarkan selera atau preferensi-preferensi tertentu atas serangkaian barang(“fungsi utilitas”), akan selalu berusaha memaksimumkan kepuasannya atas barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya, disesuaikan dengan pendapatan dan harga relatif dari semua barang dan jasa yang diproduksi. Jika diaplikasikan dalam ananlisis fertilitas, maka dalam hai ini anak dianggap sebagai suatu jenis barang konsumsi. Sehingga penentuan banyak atau sedikitnya anak yang diinginkan oleh sebuah keluarga merupakan bentuk pilihan ekonomi yang rasional. Pilihan itu sendiri diperoleh dengan mengorbankan pilihan barang yang lain.

Efek pendapatan dan efek substitusi dari pilihan itu juga diasumsikan berlaku. Berarti jika fakto-faktor lain dianggap konstan, maka jumlah anak yang diinginkan dipengaruhi secara langsung oleh pendapatan keluarga yang bersangkutan (hubungan langsung ini mungkin tidak berlaku bagi mayarakat yang miskin;mengingat besarnya dorongan untuk mempunyai anak tergantung pula pada besarnya keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang lainnya dan keterbatasan sumber-sumber pendapatan yang ada, misalnya sejauh mana istri berperan sebgai penyangga ekonomi keluarga). Sebaliknya, jumlah anak yang diinginkan akan berhubungan secara negatif dengan harga relatif (biaya-biaya pemeliharaan) anak serta kuatnya keinginan untuk memiliki barang-barang lain. Hubungan tersebut jika dituliskan secara matematis adalah sebagai berikut :

Cd = f(Y, Pc, Px, tx), x=1, …, n

Di mana:

Cd : permintaan (usaha) untuk mempertahankan kehidupan anak

Y : tingkat pendapatan rumah tangga

Pc : harga neto anak

Px : harga barang lainnya

tx : besar kecilnya preferensi terhadap barang-barang selain anak

Kemudian sejauh mana  atau seberapa banyak suatu keluarga ingin  mempunyai anak dapat dinyatakan oleh kurva indiferen yang melambangkan tingkat kepuasan subjektif orang tua dari semua kemungkinan kombinasi konsumsi antara barang-barang dan anak.

Kenaikan dalam penghasilan keluarga memungkinkan keluarga tersebut mencapai kepuasan yang lebih tinggi karena bisa mengkonsumsi barang-barang dan anak masing-masing dalam jumlah yang lebih banyak. Atau dengan kenaikan pendapatan tersebut  orang tua bisa mengeluarkan uang lebih banyak untuk meningkatkan kualitas anak dengan cara memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang lebih baik. Dengan kata lain, adanya kenaikan pendapatan memungkinkan orang tua untuk memutuskan apakah akan meningkatkan kuantitas atau kah kualitas anak. Sementara di bagi orang tua yang berpenghasilan rendah, keputusan akan jumlah anak yang dimiliki dipengaruhi oleh anggapan orang tua bahwa anak merupakan sumber keuangan tambahan dan jaminan di masa depan.

Demikian pula, kenaikan harga relatif (biaya oportunitas) anak terhadap barang-barang lain akan menyebabkan suatu keluarga menunda atau bahkan membatalkan keinginannya mempunyai lebih banyak anak dan menggantinya denagn mengkonsumsi barang-barang lain.

Hal yang merupakan suatu persoalan yang diciptakan oleh negara-negara maju yang ditimpakan ke pundak negara-negara berkembang adalah “ masalah kependudukan dunia bukan hanya sekedar masalah jumlah saja, tetapi juga menyangkut soal meningkatnya kemakmuran dan terbatasnya sumber daya.“ Kependudukan memang dapat menjadi masalah yang dikaitkan dengan persediaan dan pemanfaatan sumber-sumber daya alam dan material yang langka. Penyusutan sumber daya alam dunia yang sangat terbatas jumlahnya, tidak bisa dikatakan bahwa kelahiran seorang bayi di negara-negara maju sama artinya dengan kelahiran 16 orang anak di negara-negara berkembang. Untuk mengatasi masalah inti dunia saat ini, maka negara-negara maju harus mengurangi tingkat konsumsinya yang berlebihan, dan bukannya negara-negara berkembang yang harus membatasi pertumbuhan penduduknya. Tingginya fertilitas di negara-negara berkembang semata-mata disebabkan oleh taraf hidup yang rendah, yang merupakan suatu akibat dari “konsumsi secara berlebihan” (over consumption).

Sebab-sebab utama begitu tingginya laju pertumbuhan penduduk di Negara-negara berkembang, serta konsekuensi-konsekuensi utama yang diakibatkan oleh :

–          adanya kemajuan teknologi

–          pengambilan keputusan di tingkat keluarga atau rumah tangga mengenai jumlah   anak yg harus atau hendak mereka inginkan

–          pendapatan suatu keluarga yang besar

–          biaya oportunitas/ harga dari kepemilikan anak yg rendah

–          kurangnya pendidikan dan lapangan pekerjaan yg berpenghasilan tinggi kepada kaum   wanita muda

Konsekuensi utama yg diakibatkan oleh pesatnya pertumbuhan penduduk:

  • Kemiskinan absolut
  • Keterbelakangan
  • pengangguran yg tinggi
  • kekurangan gizi
  • ketimpangan pendapatan
  • minimnya fasilitas-fasilitas kesehatan
  • keterbatasan kesempatan kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan

Tingkat kelahiran turun di beberapa negara berkembang,  sementara di beberapa negara berkembang lainnya tidak, karena beberapa di negara berkembang mudah sekali beranak pinak karena kondisi-kondisi social dan ekonomi yang ada di sekitar mereka memandang setiap tambahan anak,baik dari sudut kepentingan social dan ekonomi,sebagai tambahan tenaga kerja Cuma-Cuma bagi keluarga,sebagai suatu perjudian genetis maupun sebagai  jaminan social ekonomi di hari tua guna bertahan hidup di tengah-tengah masyarakat yang minim perlindungan social dan cenderung diatur hanya oleh mereka yang berada.

Beberapa argumentasi yang menentang pendapat yang mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk itu merupakan suatu masalah yang serius bagi negara-negara dunia ketiga, yaitu :

a.      Inti persoalannya bukan pertumbuhan penduduk,melainkan hal-hal atau isu lain.

b.      Pertumbuhan penduduk merupakan persoalan rekaan atau  masalah palsu yang sengaja diciptakan oleh badan-badan dan lembaga-lembaga milik negara kaya dan dominan dengan tujuan menjadikan negara-negara berkembang tetap terbelakang dan bergantung pada negara-negara maju.

c.       Bagi kebanyakan negara dan kawasan berkembang,pertumbuhan penduduk justru merupakan suatu hal yang dibutuhkan atau diinginkan.

Beberapa argumentasi yang mendukung pendapat yang menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk memang merupakan masalah serius bagi negara-negara berkembang.

  • Argumentasi Garis Keras : populasi dan krisis global

Argument ini mencoba mengaitkan semua penyakit ekonomi dan social dunia dengan pertambahan penduduk sebagai penyebab utama krisis umat manusia dewasa ini. Hal ini dianggap sebagai penyebab pokok terjadinya kemiskinan, standar hidup rendah, kekurangan gizi, dan maslah-masalah sosial lainnya. Ledakan penduduk dan bahkan ramalan-ramalan yang mengerikan tentang kekurangan pangan dan bencana-bencana ekologi senantiasa didasarkan pada cepatnya laju pertumbuhan penduduk dunia..

Menurut argument ini, langkah penting yang harus segera diambil oleh negara-negara berkembang adalah upaya stabilisasi populasi atau penurunan jumlah penduduk.

  • Argumentasi Teoretis: siklus populasi-kemiskinan dan pentingnya program keluarga berencana

Teori ini merupakan argument utama dari orang-orang yang berpendapat bahwa pertumbuhan penduduk secara cepat menimbulkan berbagai konsekuensi ekonomi yang merugikan. Pertumbuhan penduduk juga menghalangi prospek terjadinya kehidupan yang lebih baik karena mengurangi tabungan rumah tangga dan negara. Dan juga akan menguras kas pemerintahyang sudah sangat terbatas untukmenyediakan berbagai pelayanan kesehatan, ekonomi dan social.

  • Argument empiris: tujuh konsekuensi negative dari pertumbuhan penduduk yang pesat

1.      Pertumbuhan ekonomi.

Kemaikan jumlah penduduk yang cepat cenderung menurunkan tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita di sebagian negara-negara berkembang.

2.      Kemiskinan dan ketimpangan pendapatan

Pertambahan penduduk yang cepat cenderung berdampak negative terhadap penduduk miskin, terutama yang paling miskin, mereka yang tidak mempunyai lahan atau alat produksi sendiri biasanya merupakan korban paling pertama dari langkah-langkah penghenatan pemerintah.

3.      Pendidikan

Keluarga besar dan pendapatan yang rendah mempersempit peluang orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Pertumbuhan penduduk yang pesat juga akan menyebabkan distribusi anggaran pendidikan semakin kecil, dengan kata lain mengorbankan kualitas demi kuantitas.

4.      Kesehatan

Angka fertilitas yang tinggi cenderung merugikan kesehatan ibu dan anak. Jarak kelahiran yang dekat cenderung menurunkan berat badan bayi, dan meningkatkan kematian bayi dan anak-anak.

5.      Ketersediaan bahan pangan

Penyediaan bahan pangan secara memadai menjadi lebih sulit jika penduduk terus bertambah dengan pesatnya.teknologi-teknologi pertanian dan pengolahan pangan terbaru harus lebih cepat diperkenalkan karena lahan-lahan yang subur sudah digunakan. Program-program bantuan pangan internasional juga harus lebih digiatkan.

6.      Lingkungan hidup

Pertumbuhan penduduk yang pesat ikut memacu proses kerusakan dan pengruskan lingkungan hidup, baik itu pengundulan hutan, erosi tanah, pencemaran air dan udara dan juga pemadatan daerah hunian perkotaan.

7.      Migrasi Internasional

Peran menonjol yang dimainkan oleh kelebihan tenaga kerja akibat penduduk yang terus bertambah terhadap lapangan kerja yang tersedia dalam perekonomian di berbagai negara-negara berkembang tidak dapat dipungkiri. Namun, sebagian biaya social dan ekonomi dari peningkatan migrasi internasional ini harus dipikul oleh pihak penerima yang kebanyakan adlah negara-negara maju

Komentar kelompok kami  mengenai pilihan kebijakan yang tersedia bagi pemerintah negara-negara Dunia ketiga dalam rangka memodifikasi atau membatasi laju pertumbuhan penduduk mereka.

1.      Pemerintah negara-negara berkembang dapat mempengaruhi masyrakat agar memilih pola keluarga kecil, melalui kegiatan-kegiatan penerangan lewat media massa dan proses pendidikan, baik yang formal maupun yang informal

2.      Pemerintah dapat melancarkan program-program keluarga berencana dengan menyediakan dukungan pelayanan kesehatan.

3.      Pemerintah secara terencana bisa memanipulasi intesif maupun disinsentif ekonomi guna mengurangi jumlah anak per keluarga.

4.      Pemerintah dapat mencoba memaksa rakyatnya secara langsungng agar mereka tidak memilki banyak anak melalui pemberlakuan peraturan perundang-undangan khusus yang dilengkapi dengan sanksi-sanksi tertentu.

5.      Tidak ada satu pun kebijakan yang akan berhasil meningkatkan fertilisasi, kecuali apabila usaha-usaha tersebut juga diikuti oleh berbagai usaha nyata untuk menaikkan status sosial dan ekonomi kaum wanita.

Menurut kami, dari beberapa kebijakan yang tersedia bagi pemerintah negara-negara berkembang, program-program kebijakan yang sudah disusun haruslah secara konsisten dapat dilaksanakan.

Dari hasil perhitungan CR4 didapatkan hasil nilai CR4 nya 0,62538 atau sebesar 60%, jadi dapat di simpulkan dari data tersebut bahwa bentuk industrinya adalah adalah bentuk pasar oligopoli.

Dapat kita ketahui bahwa oligopoli adalah suatu betuk pasar dimana hanya terdapat beberapa perusahaan atau produsen yang berada di pasar, baik secara independent maupun secara diam-diam bekerja sama. Oligopoli dapat dibedakan antara oligopoli dengan diferensiasi produk dan oligopoly tanpa diferensiasi produk. Ada tidaknya diferensiasi produk akan berpengaruh terhadap sampai seberapa jauh permintaan produk suatu perusahaan dipengaruhi oleh produk perusahaan lain. Semakin tinggi tingkat diferensiasi produk yang di pasar, semakin kecil pengaruh produk perusahaan lain terhadap permintaan produk suatu perusahaan.

Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka. Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk kedalam pasar, dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual terbatas, sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada.

Setelah melihat bahwa struktur industrinya adalah oligopoli ini, dari industri-industri tersebut akan terjadi perilaku-perilaku seperti mereka akan menghasilkan barang standard, kekuasaan menentukan harga ada kalanya lemah dan ada kalanya sangat kuat. Jika diantara produsen oligopoli yang terdapat di pasar melakukan kerjasama, maka kekuasaan menentukan harga lemah.sedangkan kalau produsen tersebut berkolusi dalam menetapkan harga, maka kekuasaan mereka dalam menentukan harga adalah sangat kuat.

Keputusan seorang oligopoli juga tergantung pada informasi: apa saja yang diketahui perusahaan dan apa saja yang sama-sama diketahui oleh perusahaan itu sendiri, perusahaan pesaing dan pembeli. Oligipoli cenderung lebih condong pada harga-harga yang kaku, yang relative jarang diubah.

Para oligopoli atau industri tersebut mempunyai keinginan yang sama dalam penetapan harga dan berperilaku seakan menjadi monopoli bersama. Utuk saling mengikat satu sama lain mereka mengadakan ikatan dalam kontrak, memperluas organisasi atau pengawasan-pengawasan lainnya. Di dalam indutri-industri tersebut juga akan terjadi kolusi. Kolusi yang resmi mengakibatkan para oligopolis memabngun kepercayaan dan saling tukar pengetahuan antar perusahaan. Kolusi yang nampak ini biasanya endemis dalam oligopoli ketat dan hampir tidak mungkin terjadi pada oligopoly longgar. Homogenitas produk juga menimbulkan kolusi terselubung. Kepemimpinan harga adalah bentuk kolusi terselubung. Dalam oligopolis, mereka sebenarnya mengahadapi persaingan diantara mereka sendiri. Tetapi dalam oligopolies yang satu dengan yang lain tidak memperliharkan bahwa antara mereka sebenarnya ada persaingan.

Dan di dalam pasar industri tersebut akan tejadi perbedaan biaya produksi dan permintaan, dan kemungkinan adanya kesepakatan antara perusahaan yang satu dengan yang lain dalam penetapan harga, tipis sekali.oleh karena itu penetapan harga oligopoli cenderung tidak stabil, dan kesepakatan sulit menerima masing-masing pihak.

Para industry tersebut mempunyai sejumlah pilihan. Banyak dari mereka menetapkan pilihan dengan aturan ibu jari. Aturan-aturan tersebut beranggapan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi tidak terlalu berpangaruh. Bahkan cara tersebut adalah cara praktis untuk memperhitungkan keuntungan maksimum dalam situasi kompetitif yang berebda-beda.

Dalam oligopoli juga mempengaruhi produsen industry dalam menetapkan harga, dimana penjual sering menambah biaya produksi dengan suatu jumlah tertentu dan kemudian menetapkan harga penjualan berdasarkan biaya produksi yang baru itu. Mereka melakukan hal seperti itu karena ingin meningkatkan dan mempertahankan pangsa pasar. Pegangan ini, dapat membantu perusahaan oligopoly dalam menetapkan volume penjualan, dengan mengabaikan interdependensi dan reaksi pesaing. Perusahaan hanya melihat perannya-skala, pertumbuhan, pangsa pasar, dan sebagainya. Aturan seperti ini akan meningkatkan outputpenjualan dimana keuntungan perusahaan maksimum.

Karena adanya pemusatan dan kesamaan biaya dan permintaan dalam oligopoli akan menyebabkan kolusi. Keadaan tersebut seperti karena adanya konsentrasi dan kelangkaan biaya, permintaan. Rintangan memasuki pasar merupakan faktor kontrol pada kerjasama oligopoly.

Dalam pasar non collusive oligopoly penurunan harga produk akan mendorong perusahaan-perusahaan lain ikut menurunkan harga. Tetapi ada juga yang mereka tidak akan ikut meniakkan harga, apabila perusahaan lain menaikkan harga produk yang dijual. Karena jika harga penjualan produknya tidak ikut dinaikkan, mereka akan mendapatkan tambahan pelanggan dari perusahaan yang telah menaikkan harga tersebut.

Dalam pasar oligopoli, dimana perusahaan-perusahaan yang ada di dalam pasar tidak melakukan kolusi diantara mereka, maka tingkat harga bersifat rigid (sulit mengalami peruabahan).

Teori Penawaran Tenaga Kerja

  • Teori Alokasi Waktu: Seseorang berusaha memaksimalkan utilitas atas waktu. Penyederhanaa waktu: waktu untuk bekerja dan waktu tidak bekerja. Utilitas dari individu tergantung pada konsumsi (c) dan waktu luang (H).

U= U (C,H)

Dalam memaksimalkan utilitas, individu menghadapi 2 constraint:

L+H=24

C=WL

Keterangan:

W= Jumlah upah riil

L= Jumlah jam dalam bekerja

  • Kombinasi constraint    :

L+H= 24

L= ( 24-H )

C= WL

C= W (24-H)

C= 24 W-WH

C+WH= 24 W                Full income ( ekstrim=24 jam)

Dalam teori alokasi waktu, opportunity cost dari H=W

  • Maksimisasi utility dengan lagrange

L= U ( C,H ) +  ( 24-C-WH )

Turunan I = =  – λ = 0

Turunan II =  = W = MRS ( H for C )

Individu bisa memaksimisasi utility kalau marginal konsumsi dalam bekerja/waktu santai = W

MRS H for C =  = W

co               A

U= ( C,H )

Ha               H

Y

BL                Income = Px1. X1 + Px2 . x2

Px2 . x2 = income – Px1 . x1

Ic                                       x2 =   –

Ic

Ic

Barang x

Subtitution effect – AC > SE > Ie

Income effect – BC > AC > BC

W

W4

W3

W2

W1

L1   L2     L4 L3     L

  • Kurva total penawaran kerja

SA                           SB                                     S

LA                                           LB                                        LC

L* = LA + LB

GAME THEORY

Aksi dari pelaku yang satu maka akan direspon oleh pelaku lainnya disebut game theory. Dalam teori  permainan ada yang melakukan kerjasama dan ada pula yang tidak kerja sama.

  • Kerja sama

Ada 2, yaitu :

–          Tidak sengaja : negosiasi

–          Sengaja : kontrak kerja / perjanjian dan mereka membuat strategi bersama.

  • Tanpa Kerjasama

Tidak ada perjanjian atau tidak terikat yang dibuat oleh pelaku. Contoh: penetapan harga dalam bersaing, dimana saling berlomba-lomba menurunkan harga.

  • Dominan  strategic

Adalah suatu strategi yang diambil untuk mendapatkan hasil yang optimal tanpa peduli apa yang dilakukan pesaing lain. Dengan menggunakan subtitusi dekat, yang dimaksud dengan subtitusi dekat adalah: subtitusi yang barangnya nyaris sama dan mudah dikenal konsumen.

  • Dominant Without Strategic

Adalah keputusan optimal yang diambil pelaku tergantung pada pelaku lain.

  • Maximin Strategic : berhubungan dengan keuntungan / kerugian perusahaan
  • The Nash equilibrium : Pilihan terbaik dengan memperhatikan tindakan lawan.
  • Entry Deterrence:

1.      Membuat investasi yang tidak dapat ditangguhkan

2.      Kebiasaan yang irasional

Prinsip deterrence yaitu member informasi, menunjukan bukti, mengancam pemain beru bahwa kalau ada pemain baru yang masuk industry akan rugi. Selain itu juga ada predatory pricing yang prinsipnya yaitu menurunkan harga hingga pesaing lain collapse.

  • Bargaining strategy adalah strategi tawar menawar, perusahaan memberitahukan 1 dari produknya.
  • Auctions, formatnya :

–          Tradisional (oral): tawar menawar dimulai dari harga yang terendah

Contoh: pelelangan

–          Dutch auctions : Dimulai dengan harga tinggi kemudian diturunkan

–          Sealed bid: Dilakukan oleh lelang proyek- proyek pemerintah. Tapi dalam realita yang menang adalah yang berharga tinggi karena kualitasnya bagus.

Contoh : gedung, jalan

  • Investment, Time and Capital Market

Capital berdistribusi pada output, dimana Q = f ( x1, x2, …xn)

Q = f ( K, L, M)

Q = f ( K, L)

  • Stock VS flows

Stock : Kapital diukur dalam pengukuran stock dan jumlanya tetap

Flows: Bersifat tidak tetap tergantung tingkat produksinya. Kalau ada tambahan stok capital, maka disebut invest ( ▲k ).

  • Present Discounted Value adalah menetapkan nilai sekarang dari arus yang akan dating.

Diskon factor :

–          Tingkat bunga

–          Tingkat inflasi

–          Tingkat biaya hidup

PDV :  untuk periode waktu yang kita punya.

Semakin tinggi R PDV nya rendah

Semakin rendah R PDV nya tinggi

  • The value of a Bond

Perpetuities adalah tingkat bunga tetap

PDV =

  • Net Present Value criterion for capital investment decision

Presen value lebih besar dari cost maka melakukan investasi. Presen value lebih kecil dari cost maka tidak melakukan invest, NPV = 0

C = Capital

years ( n=10)

= -C +  +  +

= Discount rate or opportunity cost of capital with a similar risk

if NPV > 0

Nominal rate tidak akan menghitung tingkat inflasi dan Real discount rates menghitung tingkat inflasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s