budaya

PEMELIHARAAN BENDA CAGAR BUDAYA (BCB) DAN SITUS
Benda cagar budaya (BCB) dan situs merupakan kekayaan budaya bangsa yang
penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan
dan kebudayaan. Beberapa contoh benda cagar budaya antara lain candi,
masjid kuno, makam-makam kuno, rumah tradisional, benteng, istana, dll.
Contoh situs antara lain situs Bubat, Situs Bojong Kokosan. Dari datta Diirekttoratt
Peniinggallan Purbakalla,, Diirekttoratt Jenderall Sejjarah dan Purbakalla,, Departtemen
Kebudayaan dan Pariiwiisatta,, jjumllah BCB//Siittus yang harus diipelliihara pada
ttahun 2007 sebanyak 8232 yang ttersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari
jumlah tersebut jumlah bcb/situs yang diipelliihara sebanyak 1847 dengan jjumllah
jjuru pelliihara sebanyak 2822 yang diibiiayaii darii APBN mellalluii Diirekttoratt Jenderall
Sejjarah dan Purbakalla,, Departtemen Kebudayaan dan Pariiwiisatta.. Sebagian dari
BCB/situs tersebut telah mengalami kerusakan dan pelapukan yang antara lain
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pengaruh faktor alam (gempa, banjir,
gunug meletus, angin) serta unsur-unsur kimiawi, biologis dan perbuatan
manusia (vandalisme).
Dari jumlah BCB tidak bergerak dan situs tersebut sebagian sudah dipugar baik
oleh pemerintah pusat maupun oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat.
BCB/situs baik yang sudah maupun belum dipugar harus selalu diperhatikan
pemeliharaannya agar kondisi keterawatannya tetap terjaga dengan baik.
Kebijakan untuk melaksanakan pemeliharaan terhadap BCB/situs telah tertuang
dalam Undang-Undang RI No 5 Tahun 1992 tentang BCB Pasal 13 ayat 1.
Perangkat hukum tersebut, kemudian ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 Tentang Pelaksanaan Undang-
Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang BCB. Kebijakan yang lebih operasional
tentang pemeliharaan BCB dan Situs tertuang dalam Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 063/U/1995 tentang Perlindungan dan
Pemeliharaan BCB. Serta Peratturan Mentterii Kebudayaan dan Pariiwiisatta No..
PM..17/HK..001//MKP-2005 Tenttang Organiisasi dan Tatta Kerjja Departtemen
Kebudayaan dan Pariiwiisatta dallam Pasall 341,, 350,, 351,, 352,, dan 353 yaiittu
mengattur ttenttang ttugas dan ffungsii Diirekttoratt Peniinggallan Purbakalla dallam
mellaksanakan ttugas-ttugas pemelliiharaan benda cagar budaya dan siittus..
Atas dasar metodenya dan permasalahan yang dihadapi, Pemeliharaan
terhadap BCB/situs dapat dilaksanakan dengan 2 (dua) cara yaitu perawatan
preventif (perawatan sehari – hari, dan pengendalian lingkungan klimatologi) dan
perawatan kuratif (perawatan tradisional dan perawatan modern atau dengan
menggunakan bahan-bahan kimia). Keberhasilan dalam pelaksanaan
Pemeliharaan BCB/situs tersebut, ditentukan oleh banyak faktor antara lain
kapasitas Sumber Daya Manusia, sarana dan prasarana, metode yang
digunakan, dana/anggaran yang tersedia serta informasi yang berkaitan dengan
BCB/situs yang ditangani. Oleh karenanya, agar dapat tercapai pemeliharaan
BCB/situs yang tepat guna dan tepat sasaran diperlukan suatu manajemen
pemeliharaan BCB/situs yang mencakup seluruh aspek pemeliharaan secara
holistik dan integratif.
Pemeliharaan BCB/situs harus terus menerus dilaksanakan baik secara preventif
(pencegahan) maupun kuratif (pengobatan/penanggulangan), dengan
perencanaan terpadu dan berkesinambungan, Untuk itu diperlukan koordinasi
yang baik dari seluruh stake holder dan share holder baik dari kalangan
Pemerintah (pusat dan daerah), Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM),
masyarakat pada umumnya dan kalangan swasta. Dengan harapan bahwa
upaya pemeliharaan yang konseptual dan sistematis tersebut, BCB/situs dapat
dibina dan dikembangkan menjadi obyek studi, dan aset budaya nasional serta
dapat diwaristeruskan kepada generasi yang akan datang dalam keadaan tetap
utuh dan baik.

Surabaya – Penemuan bunker diduga peninggalan Belanda di Grudo V Surabaya mendapat perhatian dari Direktur Surabaya Heritage Fredy H Istanto. Meski ragu, dia yakin jika bangunan mirip rumah Eskimo yang ditemukan warga merupakan sebuah bunker.

Namun, untuk memastikannya pihaknya akan segera melakukan penelitian dan mencari sejarah bangunan di lokasi tersebut. “Harus dilakukan penelitian lebih lanjut. Tapi dilihat sekilas memang seperti bunker meskipun atapnya menonjol yang membuat saya ragu. Makanya butuh penelitian,” katanya kepada wartawan di lokasi, Jumat (21/1/2011).

Fredy berkeyakinan bangunan tersebut merupakan peninggalan bersejerah. Pasalnya kampung Grudo merupakan kampung kuno Surabaya, sehingga diyakininya banyak peninggalan gedung atau bangunan milik Belanda.

“Jika dilihat bentuknya mungkin dulunya difungsikan sebagai tungku untuk memasak aspal, karena dulu di sini merupakan kantor dinas PU atau juga bisa berfungsi sebagai bak kontrol sistem irigasi, mengingat Grudo adalah kampung kuno,” imbuhnya.

Akan tetapi, Fredy mengaku jika memenuhi syarat maka bangunan tersebut akan dijadikan bangunan cagar budaya. “Jika dijadikan bangunan cagar budaya maka pembangunan rusunawa Grudo harus distop oleh Pemerintah Kota Surabaya,” pungkasnya.

Inventarisasi Bangunan Cagar Budaya menemukan 286 bangunan di Kota Pekalongan, jawa Tengah yang dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya dibangun tahun 1930 – 1970, namun ratusan bangunan cagar budaya tersebut sebagian besar tidak terawat.

Keterangan dihimpun Media Indonesia di Pekalongan, Minggu (23/1) hasil survei inventarisasi bangunan cagar budaya dilakukan di 13 wilayah di Kota Pekalongan ditemukan bangunan-bangunan tua yang dibangun antara tahun 1930-an hingga tahun 1970-an.

Bangunan-bangunan tua yang ditemukan tersebut di antaranya sudah masuk dalam 27 bangunan cagar budaya hasil inventarisasi dan dokumentasi Dinas Perhubungan Komunikasi Informatika Pariwisata dan Kebudayaan (dishubkominfoparbud) Kota Pekalongan tahun 2009 yakni gedung Kantor Pos dan Giro, Museum Batik, Masjid Kuno Jami-Kauman dan gedung eks kantor Bupati Pekalongan yang dimasukkan dalam sepuluh bangunan cagar budaya kategori baik dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Wali Kota Pekalongan Basyir Ahmad mengatakan akan segera menyusun skala prioritas untuk mengamankan dan melestarikan bangunan cagar budaya tersebut, selain untuk menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Pekalongan, juga melestarikan budaya dan sejarah daerah ini.

“Kami akan berupaya untuk mempertahankan bangunan-bangunan itu, bangunan milik pemerintah akan kami kendalikan dan bangunan milik masyarakat akan kami prioritaskan untuk dipertahankan apabila bangunan tersebut sangat penting,” kata Basyir.

Untuk mempertahankan dan melestarikan bangunan kuno bersejarah tersebut, demikian basyir, diperlukan anggaran yang tak sedikit, karena untuk perawatan sekaligus menjaga kondisi agar tetap bertahan.

“Kami akan anggarkan untuk itu meskipun cukup berat bagi bangunan yang telah dirombak pemiliknya,” tambahnya. (AS/X-12)

Sebagian rumah adat direlokasi
Mengintip Aktivitas di Benteng Somba Opu (12)
Tim zonasi saat ini berada di Jakarta untuk melaporkan hasil pemetaan di Kawasan Benteng Somba Opu kepada Dirjen Sejarah dan Purbakala. Kawasan cagar budaya itu dibagi ke dalam empat zona. Antara lain, zona inti, zona penyanggah, zona pengembangan kawasan dan zona penunjang.
Pembagian zona itu awalnya dilakukan untuk menyelesaikan kontroversi pembangunan GDP di dalam kawasan cagar budaya itu.
Pasalnya, meskipun telah ditetapkan sebagai obyek vital nasional, namun kawasan Benteng Somba Opu belum memiliki sistem zonasi.
Setelah zonasi selesai dibuat, ternyata diketahui jika ada beberapa rumah adat yang dibangun pada proyek miniatur Sulawesi, yang dinilai melanggar undang-undang cagar budaya dan seharusnya tidak boleh berada di zona inti maupun zona penyanggah. Sehingga, harus dirobohkan setelah Dirjen Sejarah dan Purbakala, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata mengeluarkan rekomendasi.
“Semua bangunan yang sekarang ini ada, dan ternyata tidak boleh ada disitu harus dirobohkan dan dipindahkan,” ujar Andi Muhammad Said, Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar, Kamis (20/1).
Ia mengatakan, seharusnya zonasi dibuat dari awal saat suatu lokasi telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Namun, tidak boleh ada yang saling menyalahkan dalam kasus Benteng Somba Opu.
“Harusnya dari dulu dibuatkan, tapi kita tidak usah saling menyalahkan. Belum terlambat untuk memperbaiki,” ungkapnya.
Andi mengungkapkan, setelah zonasi dibuat, akan ada beberapa perubahan di Benteng Somba Opu. Yang pastinya, zonasi bertujuan untuk memetakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam suatu kawasan cagar budaya.
“Zonasi itu mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dibangun. Kalau sekarang ada bangunan di zonasi yang dilarang, harus dipindahkan,” terangnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pariwisata Sulsel Suaib Mallombasi berharap, dengan selesainya pemetaan berdasarkan zonasi di kawasan Benteng Somba Opu, polemik pembangunan Gowa Discovery Park segera berakhir. Kalaupun ada beberapa bangunan yang kemudian harus tergeser pada proyek miniatur Sulawesi itu, tidak ada kaitannya dengan GDP.
“Jangan sampai dipolemikkan lagi kalau bangunan itu digeser karena waterboom. Tapi, karena memang sudah aturannya berdasarkan zonasi yang dibuat,” tandasnya. (TIM) ()

Candi Kaliworo di Dukuh Pacitan, Desa Ngemplak Seneng, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terancam banjir lahar dingin Gunung Merapi. Pasalnya, candi ini berada di pinggir alur Kaliworo yang menjadi salah satu jalur aliran lahar dingin dari Gunung Merapi.

Kasi Pelestarian dan Pemanfaatan BP2 Klaten Gutomo, Rabu (19/1), mengatakan, salah satu upaya terakhir yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan benda cagar budaya ini berupa pemindahan situs. Hanya saja, tambah Gutomo, hanya saja untuk memindahkan  masih harus dikaji. Pasalnya, sesuai Undang-undang Benda Cagar Budaya harus tetap mempertahankan keaslian tata letak maupun bahannya.

Untuk melestarikan benda cagar budaya, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jateng rencananya menginventarisasi benda cagar budaya, khususnya candi yang terancam dibanjiri banjir lahar dingin. Sejauh ini, ada tiga candi di Magelang yang berdekatan dengan Kali pabelan dan Tlingsing yang merupakan jalur banjir lahar dingin. Ketiga candi tersebut adalah Candi Lumbung, Candi Asu, dan Candi Pendhem.

15 OBJEK KEINDAHAN ALAM INDONESIA

1. Gunung Rinjani, NTB

Rinjani memiliki panaroma yang bisa dibilang paling bagus di antara gunung-gunung di Indonesia. Setiap tahunnya (Juni-Agustus) banyak dikunjungi pencinta alam mulai dari penduduk lokal, mahasiswa, pecinta alam. Suhu udara rata-rata sekitar 20°C; terendah 12°C. Angin kencang di puncak biasa terjadi di bulan Agustus. Beruntung akhir Juli ini, angin masih cukup lemah dan cuaca cukup cerah, sehingga pendakian ke puncak bisa dilakukan kapan saja.

2. Pulau Komodo, NTT

Taman Nasional Komodo (TN. Komodo) merupakan kawasan yang terdiri dari beberapa pulau dengan perairan lautnya. Pulau-pulau tersebut merupakan habitat satwa komodo (Varanus komodoensis) yaitu reptil purba yang tersisa di bumi. Kondisi alamnya unik, terdapat padang savana yang luas dengan pohon lontarnya (Borassus flabellifer).

3. Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat

Kepulauan Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada di barat pulau Papua di provinsi Papua Barat, tepatnya di bagian kepala burung Papua. Kepulauan ini merupakan tujuan penyelam-penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya

4. Kawah Ijen, Jawa Timur

Kawah Ijen merupakan salah satu gunung berapi atraksi wisata di Indonesia. Kawah Ijen merupakan objek wisata terkenal, yang telah dikenal oleh para wisatawan domestik dan asing karena keindahan alam dan bahari.

5. Carstensz Pyramid, Papua

Indonesia patut berbangga dengan keunikan dan kekayaan alam serta tradisi masayarakatnya. Kali ini, Carstenz Pyramid atau yang bisa disebut dengan puncak jaya, juga berada di Papua. Puncak Carstensz ini merupakan puncak tertinggi di Australia dan Oceania.

6. Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda

Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana yang, karena letusan pada tanggal 26-27 Agustus 1883, kemudian sirna. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa

7. Gunung Bromo, Jawa Timur

Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.

8. Gunung Kelimutu, NTT

Gunung Kelimutu adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Flores, Provinsi NTT, Indonesia. Lokasi gunung ini tepatnya di Desa pemo Kecamatan kelimutu, Kabupaten Ende. Gunung ini memiliki tiga buah danau kawah di puncaknya. Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Walaupun begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.

9. Taman Laut Bunaken, Sulawesi Utara

Taman laut Bunaken memiliki 20 titik penyelaman (dive spot) dengan kedalaman bervariasi hingga 1.344 meter. Dari 20 titik selam itu, 12 titik selam di antaranya berada di sekitar Pulau Bunaken. Dua belas titik penyelaman inilah yang paling kerap dikunjungi penyelam dan pecinta keindahan pemandangan bawah laut.

10. Danau Toba, Sumatra Utara

Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer (danau volkanik terbesar di dunia). Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang dan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

11. Baluran, Jawa Timur

Baluran adalah Afrikanya Indonesia, Taman Nasional ini merupakan perwakilan ekosistem hutan yang spesifik kering di Pulau Jawa, terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Sekitar 40 persen tipe vegetasi savana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran.

12. Pantai Dreamland, Bali

Dreamland atau lebih dikenal sebagai Pantai Dreamland merupakan salah satu pantai terindah di Bali selain Pantai Kuta. Pantai yang terletak tidak jauh dari daerah Uluwatu di Pulau Dewata ini sudah sangat terkenal karena keindahannya. Keindahan dan kebersihan pantai menambah daya tarik pengunjung, bukan hanya dari dalam negeri tapi juga turis manca negara.

13. Danau Gunung Tujuh, Jambi

Kerinci boleh bangga dengan keberadaan Danau Gunung Tujuh yang merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara. Serta terdapat beberapa danau kecil lainnya dengan keindahan alamnya yang unik. Danau Belibis dengan alam yang masih asli memberikan sentuhan yang berbeda.

14. Green Canyon, Jawa Barat

Green Canyon menyimpan pesona luar biasa. Perpaduan antara sungai, lembah hijau, hutan lindung, dan aneka stalaktit-stalakmit. Keindahan berbalut kesunyian, bagai surga yang tersembunyi. Green Canyon mulai dikembangkan pada tahun 1989.

15. Danau Sentai, Papua

Danau Sentani di bawah lereng Pegunungan Cycloops yang terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Papua. Lanskap Danau Sentani dengan gugusan pulau di tengahnya merupakan salah satu yg terindah di Indonesia.

Kebudayaan nasional

Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni:

Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bai Masyarakat Pendukukungnya, Semarang: P&K, 199

kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”

Pernyataan yang tertera pada GBHN tersebut merupakan penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia sedang mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional terkait dihapuskannya tiga kalimat penjelasan pada pasal 32 dan munculnya ayat yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh kebudayaan daerah jika batasan mengenai kebudayaan nasional tidak dijelaskan secara gamblang.

Sebelum di amandemen, UUD 1945 menggunakan dua istilah untuk mengidentifikasi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan bangsa, ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagi puncak-puncak di daerah-daerah di seluruh Indonesia, sedangkan kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan angsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia yang sudah sadar dan menglami persebaran secara nasional. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradsional, Kongres Kebudayaan 1991: Kebudayaan Nasional Kini dan di Masa Depan,

[sunting] Wujud kebudayaan daerah di Indonesia

Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap saerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda.

[sunting] Rumah adat

Rumah gadang, rumah adat sumatera barat

[sunting] Tarian

Tarian Pakarena di pulau Selayar di masa Hindia Belanda

Tari jaipong, Tarian daerah Jawa Barat

[sunting] Lagu

[sunting] Musik

[sunting] Alat musik

Gamelan

[sunting] Gambar

[sunting] Patung

[sunting] Pakaian

[sunting] Suara

  • Jawa: Sinden.
  • Sumatra: Tukang cerita.
  • Talibun : (Sibolga, Sumatera Utara)

[sunting] Sastra/tulisan

[sunting] Makanan

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar masakan Indonesia

Timor Jagung Bose, Daging Se’i, Ubi Tumis.

[sunting] Kebudayaan Modern Khas Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s