bacaan-wajib-di-hari-minggu

Suara dentingan piring dari arah dapur membangunkan saya dari tidur. Sayup-sayup terdengar detik jarum jam. Jam 7 pagi. Saya segera bangun, berguling ke arah bibir samping kiri tempat tidur lalu memijakkan kedua kaki di lantai yang dingin.

Cerita kartun dalam KompasSeminggu terakhir ini menjadi minggu yang cukup melelahkan. Meski pekerjaan banyak menguras pikiran dan tenaga, saya tetap menikmatinya. Beberapa tahun belakangan ini, satu-satunya hari untuk memanjakan diri adalah hari ini, hari Minggu.

Tidak banyak yang saya lakukan di pagi hari selain mengecek e-mail sebentar, lalu duduk-duduk membaca koran. Sambil menunggu sarapan disiapkan, saya meraih sebuah harian terbesar di Indonesia yang sudah menjadi menu utama dan pertama untuk dibaca. Sejenak saya melihat halaman depan headline utama koran terbitan Minggu, 19 Agustus 2007 itu. Di situ terpampang foto besar pemain bulu tangkis Sony Dwi Kuncoro sedang mendongak ke atas bersiap-siap memukul kok yang melayang di atas kepalanya. Sayang, Sony gagal mengalahkan pemain China, Lin Dan dalam final Kejuaraan Bulu Tangkis 2007 di Malaysia.

Saya membaca sekilas berita di halaman depan itu, lalu dengan cepat membuka dua halaman terakhir di bagian belakang dari 16 halaman pertama. Di halaman berjudul ‘Teka-Teki Silang dan Kartun’ itu terpampang sederetan kartun hitam putih memenuhi setengah halaman vertikal. Ada empat karakter/kartun yang menarik di situ namun ada satu yang lebih sering saya dahulukan membacanya, “Kartun Benny & Mice”. Boleh dibilang, saya agak kecanduan dengan kartun ini. Ceritanya yang sederhana namun lucu mengingatkan kita akan kehidupan sehari-hari masyarakat urban, khususnya Jakarta. Cerita-cerita yang dituangkan dalam kartun ini lucu dan realistis (kadang ada juga yang garing dan maksa). Tak perlu berpikir keras untuk mengetahui apa yang dimaksud dalam kartun itu. Misalnya saja soal VCD bajakan yang dijual bebas di emperan, heboh audisi Indonesian Idol, busway, banjir, dan lain-lain. Intinya, bagi sebagian besar orang termasuk saya, rasanya belum lengkap membaca koran – seperti sayur tanpa garam – bila belum membaca kartun yang selalu hadir di harian KOMPAS edisi Minggu ini.

Sejak Oktober 2003, Benny & Mice ikut meramaikan halaman KOMPAS Minggu yang juga memuat beberapa kartun lain (misalnya Panji Koming-nya Dwi Koen dan Timun-nya Libra). Ceritanya tentang dua tokoh laki-laki – wong cilik di Jakarta – yang tampil dengan kelakukan mereka yang acapkali norak tapi lucu. Mengapa? -Karena kenorakan mereka sedikit banyak mengingatkan akan tingkah laku kita sehari-hari, yang diam-diam juga sering norak.

Hal inilah yang membuat pembacanya merasa dekat dengan kedua tokoh itu karena mereka memang apa adanya, sama seperti kebanyakan orang di Jakarta. Siapa sebenarnya dalang di balik kedua tokoh ini? Mereka adalah Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad, yang biasa dipanggil “Mice” (baca “mi-ce”, bukan [mais] seperti tikus dalam bahasa Inggris). Bukan kali ini saja mereka berkolaborasi membuat karya. Benny dan Mice, yang sama-sama menolak disebut komikus, sudah pernah membuat kumpulan kartun “Lagak Jakarta”.

Sejak tahun 1989, semasa sama-sama kuliah di Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mereka sering membuat kartun untuk Kording (Koran Dinding). Kolaborasi ini berlanjut ketika mereka bekerja di majalah DJAKARTA!.

Sampai saat ini pun mereka sama-sama masih tercatat sebagai pengajar di Fakultas Seni Rupa IKJ. Selama mereka berkolaborasi membuat kartun, ciri khas karya mereka tetap ada hingga sekarang yaitu kartun yang kocak, gampang dicerna, dan kerap menyentil hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan jika diperhatikan, secara teknis kartun karya mereka tidak sulit untuk dikenali.

“Saya lebih senang dibilang kartunis,” kata Mice yang lahir 23 Juli 1970 ini ketika ditanya mengapa ia bisa menjadi sosok yang dikenal seperti saat ini. Menurutnya, sejak kecil ia memang senang membaca komik. Bahkan Mice, yang ketika itu masih SD, merasa girang jika diajak ibunya ke rumah sakit. Bukan apa-apa, karena di tempat parkir ada yang berjualan komik!

Setelah menjadi mahasiswa, Mice membaca kumpulan kartun karya Lat, kartunis asal Malaysia. la merasa takjub dengan kartun Lat tersebut, terutama yang berjudul “Kampung Boy” dan “Mat Som”. “Gara-gara dua buku ini, saya jadi agak terpicu untuk menjadi kartunis,” ungkapnya. Ia pun mengakui, “Benny & Mice” sedikit banyak mengandung kemiripan dengan tema-tema yang diusung dalam kartun Lat.-

Berkat karya mereka “Lagak Jakarta”, keduanya mendapat tawaran dari redaksi KOMPAS Minggu untuk mengisi kartun. Benny, yang pertama kali dihubungi oleh KOMPAS, kemudian menelepon Mice dan meneruskan ajakan yang diterimanya dari KOMPAS. Keduanya pun setuju dan muncullah kartun “Benny & Mice” di KOMPAS Minggu.

Gagasan mereka sederhana, namun mengena. “Idenya tentang kehidupan sehari-hari. Gampang kan?” kata Benny mengenai kartun “Benny & Mice”. Sedangkan menurut Mice, mereka rela menjadi “korban” dalam kartun tersebut daripada harus bersusah payah mencari-cari karakter baru untuk dijadikan tokoh. Selain itu, “Mau dibikin apa aja, mau diapain aja, engga ada yang protes atau marah,” kata Mice melanjutkan. Lalu, karena mereka berdua sama-sama tinggal di Jakarta, mereka pun menjadikan kehidupan sehari-hari di Jakarta sebagai pengisi cerita dalam kartun mereka. Secara pribadi, Benny yang terpaut setahun lebih tua dari Mice menganggap kartun ini adalah cerita tentang dua manusia di Jakarta.

Mereka tidak pernah menemui konflik dalam pembuatan kartun ini. Mereka pun tidak membuat batasan yang kaku dalam pembagian tugas selama mereka berkarya. Semuanya dibagi-bagi, baik itu cerita, ide, maupun gambar. Mungkin karena mereka memang sudah lama berkarya bersama, mungkin juga karena mereka memang satu selera. Mungkin juga karena itulah mereka sampai saat ini masih tetap dapat- berkolaborasi membuat karya. Apa pun itu, karya mereka tetap segar dan menghibur. Memang itulah yang menjadi tujuan Benny dan Mice membuat kartun. Mereka ingin membuat orang-orang yang membaca akan tersenyum ataupun tertawa. “Syukur-syukur kalau ada yang mengumpat ‘Ancur nih orang’!” kata Mice.

Itulah sedikit gambaran tentang kartun Benny & Mice yang selalu menyambut pembacanya di hari Minggu pagi. Tiga kartun lain yang menghiasi harian Kompas halaman 13 ini juga menggelitik dan tidak kalah lucunya. Kartun ‘Sukribo’ yang sering hadir dalam format dua frame menampilkan sosok anak muda berambut kribo yang punya banyolan lucu terhadap peristiwa aktual yang sedang terjadi di masyarakat. Sedangkan kartun ‘Timun’ meramu potret kehidupan seorang anak kecil bernama Timun bersama kedua orang tuanya. Dalam salah satu kartunnya dikisahkan, Timun cuma bisa meringis dongkol karena mahalnya biaya pendidikan, biaya rumah sakit, serta biaya minyak goreng dan minyak tanah.

Sedangkan kartun ‘Panji Koming’ lebih bernuansa serius dan banyak menyerempet ke ranah politik. Kartun ini sering menggambarkan pejabat atau petinggi negara yang tenang-tenang saja meski rakyatnya sedang ditimpa kesusahan. Sedangkan Panji Koming dan kawan-kawan cuma bisa melihat petinggi negara itu dari kejauhan sambil mengelus dada. MLP (Berita Indonesia 45)


Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s