Presiden SBY: Saya Tidak Mudah Digertak

Liputan6.com, Atambua: Bertempat di Markas Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti, Atambua, Nusa Tenggara Timur, tim Liputan 6 SCTV berkesempatan berbincang-bincang dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai sejumlah hal. Selain menjelaskan tentang tujuan kedatangan di NTT, Kepala Negara juga menjawab masalah-masalah mutakhir, seperti aksi kekerasan di masyarakat akhir-akhir ini.

Kunjungan ke NTT pekan lalu terbilang istimewa, karena saat masih berdinas aktif di TNI, Presiden SBY pernah menjadi Komandan Yonif 744 Kodam IX Udayana (1986-1988). “Ketika itu markasnya masih di Dili, Timor Timur,” jelas Presiden kepada reporter SCTV Rike Amru, sembari mengenang saat-saat masih memimpin pasukan.

Presiden juga mengaku masih ingat dengan jelas ketika menjalankan tugas di wilayah konflik yang kini menjadi Timor Leste itu. Khususnya ketika bertempur di medan yang sangat berat. “Selama beberapa hari kami kehabisan logistik, tetapi para prajurit tetap bertahan dan terus bertempur,” jelas SBY.

Karena itu, perjalanan ke NTT kali ini juga bisa diartikan sebagai napak tilas sekaligus bernostalgia bagi Presiden. Untuk menghayati nostalgia itu, SBY dan rombongan selama berada di Atambua tidur di tenda. Bukan apa-apa, pilihan tidur di tenda harus diambil karena di Atambua tidak tersedia hotel atau penginapan khusus. “Dan lagi, ini bukan kali pertama, dulu di Nabire waktu gempa, di lereng Merapi, dan lereng Gunung Kelud juga tidur di tenda,” ujar lulusan terbaik Akabri 1973 ini.

Tak hanya tidur di tenda, ketika mengunjungi sejumlah lokasi di NTT, Presiden dan rombongan juga menempuh jalan darat. Tujuannya tak lain untuk melihat langsung kondisi masyarakat, selain untuk bertatap muka dengan rakyat. “Dari apa yang dilihat dan didengar itu, pemerintah dengan seluruh jajaran bisa mencari solusi dan kebijakan yang tepat untuk dilakukan,” papar Kepala Negara.

Menyoal tentang aksi kekerasan yang dilakukan massa di Pandeglang, Banten dan Temanggung, Jawa Tengah, Presiden mengaku prihatin dan marah. Menurutnya, benturan antarpemeluk agama tak boleh terjadi karena tak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan. “Karena itu saya perintahkan, jika ada kelompok atau organisasi yang selama ini meresahkan, kalau perlu dibubarkan karena masyarakat ketakutan,” tegas Presiden.

SBY juga membantah terjadinya pembiaran oleh negara atas kasus-kasus kekerasan itu. Yang terjadi, menurut Presiden, adalah penanganan yang tidak cepat dan tuntas serta kurangnya antisipasi oleh aparat di lapangan, yang kemudian dianggap sebagai pembiaran oleh publik. “Tidak ada kebijakan negara untuk membiarkan seperti itu, karena itu saya menolak jika negara dikatakan melakukan pembiaran,” jelasnya.

Di lain sisi, dalam beberapa kasus Presiden mengaku tidak puas, karena sejumlah kasus harusnya bisa dicegah dan dilokalisir, namun tak dilakukan. Ini dimungkinkan semata-mata oleh ketidaksiapan dan kelalaian yang akhirnya menimbulkan korban. Agar tak lagi terjadi, Presiden mengatakan, “Saya sudah memerintahkan pada pimpinan tertinggi (aparat berwenang) untuk memberikan sanksi yang tegas.”

Kendati demikian, tak semua pihak setuju dengan gagasan pembubaran ormas anarkis. Bahkan, ada yang terang-terangan mengancam akan menggulingkan pemerintah. Untuk hal ini SBY mengembalikannya kepada aturan hukum yang berlaku. Sebagai negara demokrasi, kebebasan berbicara rakyat Indonesia dijamin. “Namun, jika memang ada yang akan menggulingkan pemerintah, bahkan katanya sudah mengajak sejumlah jenderal, itu melanggar hukum,” terangnya.

Dijelaskan lagi, yang namanya kudeta atau makar, di negara mana pun termasuk dalam kategori kejahatan berat. Karena itu dirinya menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada masyarakat. “Saya tidak ingin banyak berkomentar. Mudah-mudahan itu gertak saja, tapi saya bukan termasuk orang yang mudah digertak,” ujar Presiden dengan nada tegas.

Kepada Rike Amru, Presiden juga menjawab pertanyaan soal peran Indonesia mencari celah perdamaian atas ketegangan antara Kamboja dan Thailand. Demikian pula tanggapan atas ancaman sejumlah pihak untuk me-Mesirkan Indonesia. Dialog yang cukup panjang ini dapat Anda simak dalam tayangan video. Selamat menyaksikan!

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s